Judul tulisan ini sebenarnya agak basi dan telah menjadi menu pelengkap wajib setiap lebaran di negeri tercinta ini. Sebuah fenomena sosial yang terjadi dari tahun ke tahun entah sejak kapan dan entah sampai kapan. Urbanisasi pasca lebaran bukan hanya menjadi fenomena sosial biasa tetapi fenomena yang berujung pada persoalan rumit. Urbanisasi pasca lebaran juga dianggap sebagai salah satu pangkal makin kronisnya persoalan sosial dan lingkungan di kota tujuan seperti Jakarta. Hingga saat ini, Jakarta memang masih dan tetap menjadi kota tujuan utama urbanisasi pasca lebaran.
Apa sebenarnya yang melatari fenomena ini?
Banyak atau mungkin juga sebagian besar orang menganggap bahwa alasan ekonomi lah yang menjadi faktor penyebab mengapa orang berbondong - bondong datang ke Jakarta. Bagi beberapa orang mungkin iya, tetapi ada alasan lain yang lebih patut lagi diselami.
Jakarta memang menjadi kota “prestisius” untuk dijadikan tempat berdomisili. Tinggal dan beralamat di jakarta selalu merepresentasikan status sosial seseoarang di kampung halamannya sebagai “orang hebat”. Pola pikir seperti ini turut menyumbang opini penguat bagi banyak orang untuk mati - matian datang dan menjalani hidup di Jakarta. Sengsara sekalipun, tak apa!
Bukan rahasia lagi kalau sebagian besar para pelaku urbanisasi pasca lebaran ini didominasi oleh orang - orang berpendidikan rendah bahkan tak bersekolah ditambah skill yang pas - pasan. Jakarta bukannya miskin cerita tentang kerasnya kehidupan di Ibukota dengan jumlah penduduk tahun 2010 berjumlah 8.524.022 ( Sumber : Suku Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kota Administrasi ) itu. Para pelaku urbanisasi musiman ini sadar dan tahu bahwa Jakarta adalah kota yang penuh ironi. Kota tempat berjubelnya para konglomerat kaya dan pejabat elite tetapi juga menjadi kota dengan jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan yang cukup tinggi ( 312, 18 ribu jiwa ; BPS DKI Jakarta Juli 2010 ). Angka ini juga bukan merupakan angka mutlak mengingat tingkat perpindahan penduduk Jakarta yang sangat tinggi, bahkan jumlah riilnya bisa mencapai angka 1 juta penduduk. Jakarta adalah lumbung uang sekaligus lumbung derita. Masalah lingkungan yang berada pada level kronis, penyempitan ruang tinggal, kriminalitas yang tinggi, serta biaya hidup yang mahal tidak sanggup menghentikan langkah para pelaku urbanisasi bermodal nekat itu.
Kita sudah selayaknya bertanya tentang motiv sebenarnya orang ngotot datang ke Jakarta. Ini bukan hanya berkaitan dengan upaya pemenuhan tuntutan ekonomi dan perbaikan taraf hidup, tetapi juga berkaitan dengan pola pikir dan gaya hidup. Berbicara tentang peluang ekonomi di daerah yang selalu dikaitkan dengan isu pemerataan pembangunan, saat ini kebijakan otonomi daerah telah mendukung upaya itu. Setiap daerah telah diberi tanggung jawab dan kewenangan dalam mengembangkan potensi di daerah masing - masing secara mandiri. Di setiap daerah juga telah banyak program yang menunjang pertumbuhan perekonomian berbasis kerakyatan. Rasanya sudah tidak relevan lagi jika persoalan ekonomi yang berpangkal dari tidak meratanya pembangunan antara pusat dan daerah sebagai alasan urbanisasi musiman ini terus berlangsung. Ini persoalan pola pikir dan gaya hidup!
Pola pikir dan gaya hidup “aneh” ini bisa terlihat pada fenomena lain yang terjadi di Jakarta masih seputar lebaran, yakni mudik dengan menggunakan sepeda motor. Menjelang mudik, permintaan sepeda motor secara kredit di Jakarta meningkat tajam. Hal ini dilakukan agar bisa membusungkan dada ketika tiba di kampung halaman sebagai perantau “sukses”, meski di Jakarta hanya tinggal di lapak - lapak sederhana dan menjalani hidup penuh keprihatinan. Belum lagi sepeda motor itu akan ditarik kembali oleh pihak dealer atau bank jasa kredit satu atau dua bulan setelah lebaran karena tidak sanggup membayar cicilan. Tidak masalah! Hal ini juga sebenarnya menjadi pangkal kesemrawutan arus lalu lintas ketika mudik. Orang ngotot menggunakan sepeda motor, meski berbagai rintangan harus dihadapi bahkan kehilangan nyawa sekalipun. Kisah ini akan terus mengalami siklus panjang dan entah sampai kapan.
Untuk Pemda DKI Jakarta sendiri sebenarnya telah berupaya menekan jumlah pendatang baru dengan melakukan operasi Yustisi setiap usai lebaran. Upaya ini juga termasuk aneh! Operasi Yustisi tidak pernah memberikan solusi dan hanya berujung pada pelangggaran hak asasi serta diskriminasi. Ini berbahaya dan bukan merupakan ide yang cerdas.
Persoalan ini harus benar - benar diselesaikan dari pangkalnya. Pengembangan kawasan perkotaan regional di setiap daerah harus dilakukan secara serius dan menjamin penyerapan urbanisasi lokal. Ini sangat penting untuk menjawab budaya hedonis kelas bawah. Kontrol pola pikir masyarakat juga sangat urgen, dan harus dilakukan di desa - desa, agar masyarakat pedesaan yang lebih cepat terpengaruh oleh kisah - kisah sukses semu tidak terus memilih ke kota sebagai pilihan prestisius untuk menunjukkan kelas sosial di kemudian hari. Orang - orang yang pulang dari Jakarta juga harus memberikan informasi yang riil serta jujur tentang kehidupan Jakarta beserta seabrek persoalannya. Di samping itu, tentu saja pembangunan di tingkat regional yang mengarah kepada pemberdayaan ekonomi masyarakat harus terus dipacu lebih kencang lagi.
Jika semua orang terdorong dan mau melakukan berbagai upaya unuk menekan angka urbanisasi “aneh” ini, pada saatnya orang tidak lagi terjebak di bayangan “surga semu” Jakarta.
referensi : http://sosbud.kompasiana.com/2010/09/14/urbanisasi-pasca-lebaran-gaya-hidup/
Kamis, 25 November 2010
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)




0 komentar:
Poskan Komentar